Minggu, 24 Juni 2012

'KEHILANGAN' itu sangat BERARTI !

Hal terindah adalah  KEHILANGAN, karena dengan kehilangan kita menyadari MEMILIKI itu anugerah ..
Rasa terindah adalah SEDIH, karena dengan sedih kita menyadari BAHAGA itu manis ..
Saat terindah adalah PERPISAHAN, karena dengan perpisahan kita menyadari PERTEMUAN adalah awal dari segala yang indah ..

seharusnya kita menyadari  kehilangan itu sangat berarti... mungkin kalau kita nggak pernah mengalami   kehilangan, kita nggak bakal bersyukur dan mengetahui kalau semua yang terjadi adalah ANUGERAH dari Tuhan . Dan kita nggak pernah tau apa sebenernya makna dari 'memiliki' yang sesungguhnya itu . jadi, nikmati aja setiap hal yang terjadi dan anggap itu sebagai permulaan untuk menghadapi masa depanmu ! :)


Minggu, 29 April 2012

Indahnya Pagi


Ketika kubuka mata di pagi hari
Pemandangan indah nian sejuk
Adalah suguhan pertama yang kau berikan padaku pagi inl
Sungguh membuat hatiku diam membisu

Kiacuan burung yang amat merdu
Kokokkan ayam yang saling bersahutan
Serta tak ada bunyi kendaraan bermotor
Seakan membuat diriku terbuai olehmu

Udara sejuk yang kuhirup
Bagaikan udara terbersih yang pernah ada
Yang semakin membuat aku terpesona akan keindahanmu
Di pagi yang selalu menjadi dambaan setiap orang

created by : Dimetrio Marhaendika Prabuntoro




                                                                                                  

Kamis, 26 April 2012

Cerita Nyata – Hadiah Cinta yg tak ternilai (True Love Story)

 “Bisa saya melihat bayi saya?” pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan. Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga! Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayiyang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk. download

Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu yang menangis. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Anak lelaki itu terisak-isak berkata, “Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh.”
Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Ia pun disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunya mengingatkan, “Bukankah nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?” Namun dalam hati ibu merasa kasihan padanya.
Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya. “Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya,” kata dokter. Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka. Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya, “Nak, seseorangyang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia,” kata sang ayah.

Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru pun lahirlah. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya. Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia menemui ayahnya, “Yah, aku harus mengetahui siapayang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya.” Ayahnya menjawab, “Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orangyang telah memberikan telinga itu.” Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, “Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini.”
Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu. Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah… bahwa sang ibu tidak memiliki telinga. “Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekalibisa memanjangkan rambutnya,” bisik sang ayah. “Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan?”
Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun pada apa yang tidak dapat terlihat. Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui.
Betapa kesehatan sangat berharga. Karena dengan sehat, kita bisa beribadah, kita bisa bersosialisasi, kita bisa menjalankan aktifitas, kita bisa menjalankan hobbi dan kita bisa bekerja.. jauh lebih baik ketimbang jika kita sedang sakit.


WE CAN LEARN IT!

When someone hurts us, we should write it down on sand where the wind of forgiveness can erase it away. But, when someone does something good for us, we must engrave it on a stone where no wind can ever erase it! :)



Sabtu, 28 Januari 2012

Hidup Bagai Roda Berputar

         Saat tetes embun mengawali pagi, Aku terbangun dari tidur nyenyakku. Tepat pada pukul 06.00 Aku bergegas untuk mandi. Kami memang sudah merencanakan untuk mengisi weekend kali ini dengan pergi berekreasi. Papa mengajak ke Gua Maria Tritis dan Pantai Ngobaran, tepatnya di daerah Wonosari. Aku sangat gembira akan hal itu karena kami jarang berpergian untuk sekedar menjernihkan pikiran. Waktu pun terus berputar. “Ayo, mandinya cepetan nanti keburu siang, jalanan macet!” tegas Mama dari luar kamar mandi. “Iya Ma, bentar!” sahutku kemudian. Sunyinya di pagi buta itu terselip secercah harapan untuk hidup yang lebih baik.

        Seperti hari Minggu biasanya, Mbak Wati yang membantu pekerjaan rumah kami libur kerja sehingga segala sesuatu harus kami lakukan sendirian. Mama sibuk di dapur untuk mempersiapkan makan pagi dan bekal untuk kami berekreasi, sedangkan di sudut lain Papa dan Rio menjaga adik kami yang baru berusia dua tahun. Mereka jalan – jalan pagi di sekitar rumah. Kesibukan di pagi itu diiringi dengan sahutan kicau burung yang sangat merdu. Setelah Aku selesai mandi, Aku membantu Mama menyapu lantai. Betapa ringannya pekerjaan itu jika dilakukan bersama – sama serta penuh suka cita. Saat itu aku termenung sejenak, Aku sempat membayangkan di kala pagi hari biasanya. Aku sering begitu saja meninggalkan tempat tidurku, membiarkan selimut yang tergelar lebar di atas kasur, dan bantal guling yang tidak tertata.  Aku selalu mengandalkan Mbak Wati untuk merapikannya.
Setelah semuanya siap kami segera berangkat. Di dalam mobil kami sarapan bersama. “Kamu mbok coba latihan nyuci baju apa masak gitu kalau Minggu, kan mumpung libur,” usul Mama sambil tersenyum. “Iya Ma, tapi Aku nggak bisa cara masak tu gimana, apalagi nyuci baju!” gerutuku. “ Ya latihan lah! Dulu Mama waktu masih sekolah juga gitu… Tiap hari bangun pagi bantu orangtua dulu, terus nanti baru berangkat sekolah. Kalau pulang sekolah juga sama, bantu cuci piring dulu nanti baru ngerjain PR,” cerita Mama. “Ya tapi jaman sekarang sama dulu kan beda, Ma!” tegasku dengan penuh percaya diri. “Ya memang sih, tapi apa salahnya sih kalau kamu latihan dari sekarang, kamu semakin lama kan juga tambah dewasa, masak kamu mau tergantung sama Mama terus? Padahal kamu cewek lagi!” seru Mama dengan muka menyindir. “Hmmm, iyadeh Ma… besok aku coba latihan,” ungkapku. “Nah gitu dong…” ucap Mama sambil tertawa. 
Selama perjalanan kami melihat banyak hal, Aku melihat orang yang terlantar di jalanan, mulai dari balita hingga usia tua. Aku sangat merasa iba pada mereka. Di setiap sisi jalan terdengar suara keplokan tangan dari anak – anak yang polos itu, tangisan bayi yang digendong orangtuanya di tengah terik matahari dan polusi kendaraan yang begitu menyengat.  Mereka lakukan itu semua demi sesuap nasi dan sejejak langkah kehidupan. Dengan modal kemampuan yang pas – pasan mereka juga bisa membuktikan bahwa mereka bisa berusaha dengan tangan mereka sendiri walaupun belum semaksimal seperti kita. “Itu coba kamu lihat, anak kecil aja udah disuruh kerja sama orangtuanya… Harusnya kamu bersyukur bisa diberi kehidupan yang layak, setidaknya lebih beruntung dari mereka,” terang Papa kepada kami. “Iya Pa, kasian… Harusnya mereka bisa belajar tapi karena kondisi yang tidak mendukung mereka rela untuk menyingkirkan masa belajar dan bermainnya demi uang,” jawab Rio. “Makanya kamu harus bersyukur, nggak boleh ngeluh terus… Itu kan resiko hidup,” terang Papa. “Iya Pa!” jawab kami.
Tiba – tiba di tengah perjalanan perasaanku tidak enak. Aku sudah mempunyai bayangan  seperti akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Di dalam angan – anganku peristiwa itu akan dialami oleh seorang perempuan, tapi Aku tidak tahu siapa orangnya. Aku jadi takut kalau – kalau itu akan terjadi pada salah satu anggota keluargaku. Lalu Aku berdoa, memohon agar kami sekeluarga diberi keselamatan selama perjalanan sehingga bisa selamat sampai tempat tujuan kami. Aku baru bisa merasakan lega setelah selesai berdoa.

         Tak terasa ternyata kami sudah sampai di daerah Wonosari. Jalannya berkelok – kelok dan banyak tanjakan. Lalu kami terjebak macet di sebuah jalan tikung serta tanjakan, kami berpikir bahwa karena hari libur sehingga jalannya ramai. Ternyata di depan ada kerumunan orang dan polisi di tengah – tengah jalan. “Oh… Itu ada tabrakan ya, Pa?” tanya Rio pada Papa. “Iya… Wah, kasian… Kok sampe ditutupi pusri segala ya?” tanya Papa heran. “Wah, paling orangnya meniggal itu! Sampe ditutupi segala gitu kok,” seru Mama. Para polisi melambai – lambaikan tangan dan mengatur arus lalu lintas. Setelah kami mendapat giliran untuk jalan, kami melihat korbannya yang sudah tak berdaya tergeletak menyimpang di tengah jalan. Betapa mirisnya hati ini setelah melihat kejadian itu. Aku melihat si korban itu tepat di sebelahku setelah mobil kami jalan. Aku menengok ke arah kiri, terlihat seorang wanita yang terbengkalai di tengah jalan dengan kondisi kepala yang hancur serta seisi kepalanya keluar dan tercecer di tengah panasnya aspal. Melihat hal itu Aku langsung shock  dan tidak bisa berkata – kata lagi. “Ya ampun!” teriak Mama dengan rasa terkejut bercampur takut.  Terlihat juga anggota keluarganya yang menangis tersedu – sedu. Aku tidak tahu apa yang menyebabkan peristiwa kecelakaan tersebut. “Nah, itulah resiko orang di jalan, nggak tau apa yang akan terjadi. Hidupnya cuma ditentukan dalam sekejap,” ujar Mama pada kami. Sekujur tubuhku dingin membeku karena terbayang kejadian tadi. “Berarti hidup itu bagaikan roda yang berputar, kadang kita berada di bawah kadang juga di atas. Kita juga nggak tau seberapa panjang umur kita,” tambah Papa. Aku terus termenung dan mencoba untuk meresapi perkataan kedua orangtuaku. Sebenarnya Aku sangat lelah dan ngantuk, tapi Aku terus menahan rasa itu karena Aku takut jika terjadi sesuatu.
Waktu terus berjalan, kami pun akhirnya sampai di Gua Maria Tritis. Di parkiran kami langsung disambut oleh ibu – ibu penyedia jasa payung, kami diantar menuju gua, jalannya sangat jauh dan curam. Di tengah teriknya mentari kami menjejakkan kaki di atas jalan bebatuan. Ternyata di Gua Tritis sedang ada misa Bulan Maria, akhirnya kami pun mengikuti misa walaupun sudah terlambat beberapa menit. Di sana Aku ketemu Dela anak kelas 8C dan Erwin. Tak lupa Aku juga mendoakan orang yang meninggal akibat kecelakaan tadi. Semoga amal ibadahnya dapat diterima dan mendapatkan tempat yang layak di sisi – Nya serta keluarganya selalu diberikan ketabahan dan bisa menerima sebuah kenyataan hidup yang memang harus dijalani.

          Setelah selesai misa kami segera naik menuju ke tempat parkir. Saat perjalanan mendaki bebatuan tiba – tiba ada seseorang yang memanggil namaku, ternyata itu Miss Lintang. Lalu aku membalas menyapa, Miss Lintang bersama calon suaminya baru saja mengikuti misa dan akan segera pulang. Kami pun tak enggan untuk singgah di gubug kecil di tepi jalan setapak untuk sekedar mencicipi hidangan pecel. Setelah perut kenyang, kami segera melanjutkan perjalanan menuju Pantai Ngobaran.
Tempatnya memang cukup dekat dengan Gua Tritis. Setelah sampai kami langsung menuju gubug – gubug kecil yang berada di tepi atas pantai. Ombak di Pantai Ngobaran sangat besar sehingga para pengunjung tidak diperbolehkan turun ke pantai. Kita hanya bisa melihat keindahan pantai dari atas. Kami beristirahat di gubug itu, di sekeliling gubug juga terdapat patung dewa – dewa serta beberapa tokoh wayang. Pemandangan di sekitar pantai sangat indah, apalagi gulungan ombak yang saling berkejar – kejaran itu. Tiba – tiba Mama mengatakan sesuatu, “Eh kamu udah ngucapin ke Papa belum?”  “Loh emang ada apaan kok ngucapin?” tanyaku heran. “Lha kan Papa hari ini ulang tahun! Masak lupa sih?” jawab Mama tak percaya. “Oh… Hari ini Papa ultah ya Ma?” sahutku sambil tertawa. “Iya, ngucapin dulu sana!” seru Mama. Hari ini Aku benar – benar lupa kalau Papa ulang tahun padahal Aku tahu kalau hari itu tanggal 16 Oktober. “Ya ampun ada yang ulang tahun tapi kok anaknya sampai lupa nggak ngucapin… Hmm,” gerutu Papa sambil tersenyum.
Karena hari sudah sore, kami segera pulang. Sepanjang perjalanan kami melihat pepohonan yang kering dan sepertinya tidak segar karena berada di daerah pegunungan kapur. Serasa seperti di luar negeri, daun – daunnya putih seperti diselimuti salju. Kemudian Aku ingat kejadian tadi, Aku masih trauma. Aku selalu melihat di setiap sudut jalan dan rasa cemas bercampur takut itu selalu menghantuiku. Aku takut jika nanti melewati jalan yang menjadi Tempat Kejadian Perkara. Aku terus berdoa, berdoa, dan berdoa… Lalu terdengar suara klakson mobil tiga kali ( tin...tin...tin… ) itu tanda permisi kita jika akan melewati suatu tempat yang bisa dibilang “mistis”. “Hahhh, lega juga akhirnya bisa melewati sebuah tantangan yang begitu menguras pikiran,” gerutuku sambil mengelus dada. Dan akhirnya beberapa jam kemudian kami pun sampai di rumah dengan selamat.

        Petualanganku pada hari ini dapat memberikan pengalaman baru dan menjadikan sumber referensi untuk menginspirasi hidup agar lebih berguna bagi orang lain. Kita perlu belajar dari pengalaman hidup karena hidup adalah sebuah cerita kisah, memang sulit tapi harus dijalani sebab itu merupakan resiko dari sebuah kehidupan. Kadang orang bilang, hidup itu rasanya nano – nano kadang manis kadang masam kadang juga pahit. Manis jika kita lakukan dengan senyuman, masam jika dilakukan dengan muka muram, dan pahit jika dijalani dengan terpaksa. Perlu kita tahu bahwa hidup itu juga bagaikan roda yang berputar. Terkadang kita berada di bawah dan terkadang juga di atas. Hidup tidak sepenuhnya enak, kadang mendapat cemoohan juga. Setiap orang mempunyai keberuntungan yang berbeda dan itu semua sudah diatur oleh Tuhan. Yang terpenting jadilah diri sendiri yang bisa bermanfaat bagi orang lain.
 







Sabtu, 31 Desember 2011

RENUNGAN KEHIDUPAN

Ketika kerja kita tidak dihargai...saat itu kita sedang belajar tentang KETULUSAN
Ketika usaha kita dinilai tidak berhasil...kita sedang belajar KEIKHLASAN
Ketika hati dilukai sangat dalam...kita sedang belajar menggunakan PERASAAN
Ketika kita lelah dan dikecewakan...kita sedang belajar KESABARAN
Ketika kita selalu mengalami kegagalan...kita sedang belajar KESUNGGUHAN dan KEULETAN
Ketika kita harus membayar yang tidak perlu dan bukan kewajiban...kita sedang belajar KEMURAHAN dan BERSEDEKAH
Ketika kita berbuat benar dan jujur, justru dianggap bohong...kita sedang belajarMEMAAFKAN dengan AKHLAQ dan MORAL

Ilmu itu memang mahal, tapi sangat terasa manfaatnya...
Iman tanpa ilmu itu sia2.. tapi ilmu tanpa iman tidak ada gunanya !
KEBERHASILAN bukan suatu kebetulan semata...
tapi perlu TINDAKAN yang nyata...
Setiap tindakan pasti ada dampaknya !
HIDUP TIDAK BERBUAT BERARTI DIA MATI SURI !

Tatap arahmu dan ayooo songsong masa depan...
tanyakan pada dirimu ke mana kau mau ???
Setelah itu berkoordinasilah dengan ALLAH yang menguasai langit dan Bumi...
MELANGKAHLAH TANPA RAGU...
karena sesungguhnya Sumber Kehidupan ada di dalam diri kita sendiri...

GOD bless you :)



Selasa, 13 Desember 2011

KURANGI dan PERBANYAK

Dalam hidup ini :
  1. KURANGI ucapan yang mendendam, PERBANYAK ucapan yang mengasihi
  2. KURANGI kata - kata yang mengejek, PERBANYAK kata - kata yang menghargai
  3. KURANGI kata - kata yang melemahkan, PERBANYAK kata - kata yang mendukung
  4. KURANGI kata - kata yang menolak, PERBANYAK kata - kata yang memperhatikan
  5. KURANGI kata - kata yang menjatuhkan, PERBANYAK kata - kata yang membangun
  6. KURANGI kata - kata yang sia -sia, PERBANYAK kata - kata yang mendatngkan insipirasi
  7. KURANGI kata - kata yang kasar, PERBANYAK kata - kata yang lemah lembut dan meneduhkan
" Hendaklah kata - katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar ! "